Tahapan Menuju Acara Adat Pernikahan Bagi Suku Mandailing

  • Whatsapp
Proses pernikahan dalam tradisi etnis Mandailing, Sumatera Utara. Foto: Riska Wahyuni Lubis/IndoPos86.
“Upacara pernikahan ini merupakan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyang, jadi harus dijaga kesakralannya agar pernikahan tersebut menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,”

Oleh: Riska Wahyuni Lubis*

Senin 4 Mei 2020 I Pukul 15.10 WIB

Bacaan Lainnya

Indonesia adalah negara kepulauan yang mencakup lebih dari 17.000 pulau yang dihuni oleh sekitar 255 juta penduduk. Indonesia menjadi negara di urutan keempat dalam hal negara yang memiliki jumlah populasi terbesar didunia. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negeri yang kaya. Kekayaannya berupa beragam hasil alamnya, ragam budaya, suku, bahasa, agama, dan adat istiadat. Semboyan negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika juga menunjukkan bahwa negara kita adalah masyarakat yang multikultural.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beragam etnis, baik sebagai etnis asli, maupun etnis pendatang. Etnis asli Sumatera Utara terdiri atas delapan etnis, yaitu: Melayu, Batak Karo, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pesisir, Simalungun, Pakpak, dan Nias.

Suku Mandailing merupakan salah satu dari delapan suku yang ada di Sumatera Utara. Mandailing adalah suatu wilayah yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal di tengah Pulau Sumatera. Suku ini dominan penganut agama Islam, oleh karena itu agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan upacara adat khususnya suku Mandailing.

Sama halnya seperti konsep Van Volenhoven dengan 19 lingkungan adat yang  memasukkan suku Mandailing dalam lingkungan tanah Batak (Tapanuli) dengan wilayah Gayo, Alas dan Batak.

Suku Mandailing merupakan nama suku bangsa indonesia yang mendiami sebagian kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Suku Mandailing mengenal paham kekerabatan patrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang Mandailing mengenal dan menggunakan marga. Di Mandailing dikenal belasan marga, berbeda dengan di Batak yang mengenal 500 marga. Marga di Mandailing antara lain: Lubis, Nasution, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Harahap, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut.

Masyarakat Mandailing memiliki hukum adat istiadat perkawinan yang memuat serangkaian kegiatan yang di mulai dengan, mangaririt boru (menyelidiki calon pengantin), padomos hata (penyampaian maksud), patobang hata (memantapkan pembicaraan), manulak sere (menyerahkan mahar) pada saat inilah penentuan hari pesta pernikahan.


A. Prosesi Pra-Nikah

1. Mangaririt Boru

Mangaririt Boru disini adalah apabila seorang laki-laki sudah mempunyai niat untuk menikah dan sudah punya calon tersendiri. Seorang lelaki tersebut harus menyampaikan keinginannya tersebut kepada orangtuanya, maka orang tua disini wajib untuk menjajaki siapa perempuan itu. Apakah kalau mereka datang nanti melamar akan diterima atau apakah sudah ada lelaki yang lain terlebih dahulu melamar perempuan tersebut. Semua hal perlu diselidiki terlebih dahulu, inilah yang dimaksud dengan Mangaririt boru.

2. Padamos Hata

Setelah acara Mangaririt boru selesai, selanjutnya mempelai laki-laki bersama keluarga datang dan memperkenalkan  secara langsung ke pihak boru (perempuan). Dirumah perempuan pihak dari perempuan akan menanyakan maksud kedatangan pihak laki-laki. Percakapan yang terjadi kurang lebih seperti dibawah ini:

Pihak Perempuuan: Apakah maksud dari keluarga abang datang kerumah kami?

Pihak laki-laki : “Mengingat anak kami si Syamsul yang sudah besar badannya, sudah tamat sekolah, sudah ada pekerjaannya, dia bercita-cita untuk berumah tangga, dan kami ingin bertanya benar di rumah bapak ini ada seorang putri yang bernama Rahma yang merupakan putri bapak dan apakah sudah ada yang meminangnya?

Pihak Perempuan : “Betul, ada putri kami yang bernama Rahma dan sepengetahuan kami belum ada yang meminangnya.”

Pihak laki-laki : “Baik la, jadi apakah kami dari pihak yang datang ini diperbolehkan untuk datang kembali meneruskan maksud kami yaitu lamaran?

Pihak Perempian : “Karena si Rahma tadi belum ada yang melamar, maka tidak ada alasan kami untuk menolak niat baik dari pihak keluarga abang.

Setelah acara diatas pihak laki-laki akan kembali ke rumah, dan selanjutnya akan datang lagi dalam acara lamaran.

3. Patobang Hata

Setelah acara Mangaririt berjalan dengan lancar, maka pembicaraan akan sampai pada tahap Patobang Hata (melamar). Pihak laki-laki akan datang kembali kerumah keluarga perempuan untuk peminangan yang sesungguhnya. Dalam melamar ini pihak laki-laki harus membawa Salipi. Salipi diletakkan di dalam kantung berbentuk segi empat yang terbuat dari tikar anyaman pandan berwarna putih dan di kelilingnya dihiasi benang berwana-warni. Di dalamnya terdapat kapur sirih, pinang, gambir, tembakau, dan burangir (daun sirih).

Salipi yang dibawa pada saat proses Patobang Hata, didalamnya terdapat kapur sirih, pinang, gambir, tembakau, dan burangir (daun sirih). Foto: Riska Wahyuni Lubis/IndoPos86.

Selanjutnya salipi tersebut di berikan kepada pihak perempuan disertai dengan percakapan:

Pihak laki-laki : “Apakah sudah boleh kami sampaikan hajat kami”

Ahli bait          : ” Silahkan sampaikan. Sirih kami terima”

Pihak laki-laki : Kami ingin menyambung yang beberapa hari yang lalu. Kira-kira Rahma di izinkan untuk jadi teman hidup anak kami si Syamsul.”

Pihak Perempuan :“Kami berbesar hati. Tapi mengingat ada uwaknya, ada mora kami. Mora kami la yang tau dan menyambut hajat dari pada keluarga kami, ini pun kami serahkan ke pihak mora.”

Mora : “Assalamu’alaikum Wr.Wb, terima kasih kepada pihak keluarga perempuan telah memberi kepercayaan kepada saya sebagai mora dari keluarga ini. Sambutan anak boru ayah Sinta sudah besar hati namun ayahnya menyerahkan kepada kami. Tentunya kami dari pihak mora ni mora ikut berbesar hati. Tapi begitulah indahnya budaya bukan semudah itu memetik kembang kami tanpa syarat adat. Jika setuju maka persyaratan yang akan kami berikan sebagai berikut (persyaratan bisa juga di tentukan oleh kedua pihak):

  1. Perlengkapan Kamar
  2. Seperangkat Pakaian
  3. Seperangkat Alat Shalat
  4. Pakaian (kain sarung paliket)
  5. Emas sebesar kepala kuda (Jarang ada yang sanggup memenuhinya).

4. Manulak Sere

Setelah lamaran berjalan dengan lancar, selanjutnya adalah hantaran. Pihak laki-laki akan datang bersama rombongan dengan membawa semua persyaratan-persyaratan yang diminta pihak perempuan pada saat lamaran tersebut. Pihak laki-laki dan perempuan akan berdiskusi dan berbincang-bincang. Kadang menggunakan pantun/syair, contohnya:

Ke Gersik sudah ke Penang sudah

Kapan ndak ke Kedah, Kapan ndak ke Sumbawa

Jerisik sudah dipinang sudah

Kapan ndak kami bawa

Disaat berbincang-bincang ada beberapa hal yang akan dibahas :

a. Kapan tanggal pernikahan akan dilaksanakan.

b. Apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk acara pesta

c. Akad nikah dilaksanakan dirumah pihak mempelai perempuan, setelah itu pesta dirumah laki-laki.


B. Prosesi Acara Pernikahan(Hari H)

Pihak laki-laki akan datang kerumah perempuan untuk melangsungkan akad nikah, dalam akad nikah ini pihak laki-laki diwajibkan membawa Salipi. Setelah selesai akad nikah, sorenya mempelai perempuan akan dibawa kerumah laki-laki untuk mengadakan pesta besar-besaran.

Proses pernikahan dalam tradisi etnis Mandailing, Sumatera Utara. Foto: Riska Wahyuni Lubis/IndoPos86.

Adapun rangkaian acara pernikahan adat mandailing di rumah mempelai laki-laki, yaitu:

1. Memberi Gelar

Mempelai laki-laki akan diberi gelar dengan tujuan agar anaknya pada suatu saat nanti bisa mengikuti adat pernikahan Mandailing seperti adat pernikahan ayahnya.

2. Kenduri

Kenduri adalah masak nasi dan gulai disertai dengan doa selamat dan doa arwah.

3. Marhaban

Marhaban adalah penyambutan kedua mempelai, dalam penyambutan ini diiringi dengan marhaban, pencak silat, dan gordang sambilan.

4. Tampung Tawar

Tampung tawar adalah pemberian restu kedua pihak keluarga, kaum kerabat, dan tamu undangan.

5. Doa Selamat

Doa selamat adalah doa untuk kedua mempelai agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.

6. Membawa Kedua Mempelai ke Sungai Batang Gadis

Kedua mempelai akan dibawa ke sungai batang gadis dengan tujuan menghanyutkan perangai-perangai waktu gadis dan bujang.

7. Acara Makan Siang

Acara ini tamu undangan makan bersama.

8. Acara Hiburan

Biasanya acara hiburan di isi dengan musik Gordang Sambilan dan Manortor.

Inilah tahap demi tahap proses menuju pelaminan dalam adat suku mandailing. Prosesi pernikahannya memang memiliki rangkaian yang panjang dan tidah mudah. Maka dari itu, kedua mempelai harus mempersiapkan secara detail tanpa ada satupun yang terlewatkan. Karena upacara pernikahan ini merupakan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyang, jadi harus dijaga kesakralannya agar pernikahan tersebut menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. (Red/IndoPos86).


*Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.