7.000 APD dan 3.600 Rapid Test COVID-19 akan Diterima Sumut

  • Whatsapp

Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut Riadil Akhir Lubis mengatakan, seluruh biaya pengobatan PDP ditanggung pemerintah dengan APBD, Minggu (22/03/2020), dalam live konferensi pers dari posko utama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut. Foto : Dok. Istimewa.

Rabu 25 Maret 2020 I Pukul 08.09 WIB

Bacaan Lainnya

Medan, IndoPos86 – Provinsi Sumatera Utara akan menerima bantuan tujuh ribu alat pelindung diri (APD) bagi petugas medis dan 3.600 alat rapid test virus corona (COVID-19).

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Sumatera Utara Riadil Akhir Lubis, Selasa (24/03/2020) menyatakan bahwa wilayahnya itu akan mendapatkan bantuan 3.600 alat rapid test virus corona dan 7.000 alat pelindung diri (APD) untuk para medis.

“Bantuan 7.000 APD ini berasal dari Pemerintah Pusat, Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat,” kata Riadil di Medan, dikutip dari ANTARA.

Adapun rinciannya yakni 3500 APD dari Kementerian Kesehatan, 2.000 APD dari Pemerintah Pusat, dan 500 APD dari BNPB Pusat.

Selain itu Gugus Tugas Pemrov Sumut juga telah memesan kurang lebih 4.000 APD dari Surakarta.

“Persisnya kita akan mendapatkan kurang lebih tujuh ribu APD,” ujar Riadil.

Sementara untuk bantuan alat rapid test virus corona ini diberikan oleh Presiden Joko Widodo.

“Kita mendapatkan bantuan dari Bapak Presiden rapid test untuk masal sebanyak 3.600,” ujarnya.

Langkah penanggulangan COVID-19 juga dilakukan dengan menyiapkan beberapa rumah sakit dan lokasi bangunan.

Adapun rumah sakit rujukan yakni RS GL Tobing PTPN II yang berada di Tanjung Morawa, RS Martha Friska satu dan dua, dan rencana rujukan rumah sakit evakuasi yakni RS Sari Mutiara Medan.

Berikutnya, bangunan Pusdiklat Badan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Provinsi, dan Wisma Atlet yang berada di Jalan Pancing, Deli Serdang, dan eks Sekolah Polisi Negara di Jalan Bhayangkara.

Langkah itu dilakukan guna mengantisipasi bilamana terjadi lonjakan pasien. Baik yang positif COVID-19, pasien dalam pengawasan (PDP) mau pun orang dalam pemantauan (ODP).(Adm).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.