Ponpes Tahfizul Quran Ayatul Mubarok, Perjuangan Dakwah Ustadz Munawir Al-Hafidz

  • Whatsapp

Ustadz Munawir Al-Hafidz meletakkan batu pertama pembangunan Ponpes Tahfizul Quran Ayatul Mubarok, Ahad, 26/01/2020 (Atas). Progres Pembangunan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ayatul Mubarok, Kamis, 05/03/2020 (kiri bawah). Ustadz Munawir Al-Hafidz bersama Kepala Desa Pematang Johar, Camat Labuhan Deli serta Beberapa Tokoh Masyarakat di lokasi Pembangunan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ayatul Mubarok (kanan Bawah). Foto : Kolase PicsArt/IndoPos86.


Sabtu 7 Maret 2020 I Pukul 11.00 WIB

Bacaan Lainnya


Deli Serdang, IndoPos86 – Masyarakat Islam di Sumatera Utara kini menghadapi tantangan yang berat, khususnya generasi muda Islam yang menghadapi tantangan global, seks bebas, serta penyalahgunaan narkoba. Yang berdampak terhadap penurunan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

Sehingga harus ada upaya nyata untu menanamkan kembali nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadist. Hal inilah yang menjadi latar belakang Ustadz Munawir Al-Hafidz mendirikan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ayatul Mubarok. Beliau merupakan salah seorang Ustadz/tokoh agama yang telah puluhan tahun berdakwah di wilayah Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang hingga kawasan Medan bagian utara.

“Lokasi Pondoknya persis disamping rumah saya, saat ini progress bangunan sudah mencapai 60 persen untuk lantai 1 dari rencana 3 lantai. Targetnya tahun ini bisa mulai menerima santri minimal 1 lokal dulu, seandainya tidak bisa siap keseluruhan bangunan tahun ini. Karena untuk biaya pembangunan kita usahakan sendiri serta jemaah yang terus bergerak dan membantu.”

“Alhamdulillah, niat kita baik, Allah SWT selalu berikan kemudahan. Sehingga banyak pihak yang meyakinkan termasuk keluarga bahwa Insya Allah niat membangun Pondok Pesantren Tahfizul Quran Ayatul Mubarok akan Allah SWT mudahkan. Pondok ini didirikan juga sebagai bagian perjuangan dakwah saya serta tentunya untuk melahirkan kader-kader penghafal Quran kedepannya.” ucap Ustadz Munawir dalam wawancara langsung bersama IndoPos86, Jumat (06/03/2020).

Ustadz Munawwir ketika sedang menyampaikan kajiah Fiqih di Masjid Al Falah, Kelurahan Tangkahan, Medan Labuhan, Jumat (06/03/2020). Foto : IndoPos86.

“Kita mengadopsi budaya mondok di Jawa, tentunya dengan adaptasi perkembangan zaman serta perpaduan budaya ditempat saya. Ini mungkin menjadi nilai lebih yang hendak ditawarkan PonPes Tahfizul Quran Ayatul Mubarok. Lokasinya dekat dengan objek Wisata Sawah Desa Pematang Johar. Jadi dibagian belakang Pondok masih wilayah persawahan. Insya Allah situasi yang kondusif serta nyaman untuk para santri, baik juga buat mereka pada saat proses belajar telah dimulai.”ucap Beliau.

“Saya lahir dan besar di Pulau Jawa, mondoknya dari kecil juga di Jawa, jadi merasakan betul kultur mondok yang sedikit berbeda jika dibandingkan di beberapa ponpes di pulau Sumatera, khususnya daerah Sumut ini. Disini sebagian besar Ponpes dibangun merupakan wakaf atau milik saudara kita yang mampu secara harta. Kemudian dicari tenaga pengajar untuk mengelola. Meskipun ada juga yang diasuh langsung oleh Kyai pendiri pondok. ucapnya.

“Kalau kami dulu mondok, itu yang punya pondok kyainya, yang mengajar juga kyainya langsung. Dan sebahagian besar pondok pesantren di Jawa dibangun di sekitar kediaman Kyai pengasuh pondok pesantren itu. Jadi dia pantau keseluruhan kegiatan di pondok dari dekat.”

“Yang menurut khas dan tidak bisa dilupakan Kyai di pondok setiap pagi akan membangunkan santrinya, didatangi tiap-tiap kamar. Nak, ayok tahajjud dulu. Itu diketuk pintu kamarnya satu-satu, keliling beliau. Dan ada perasaan bangga dan senang gitu ketika kita diperhatikan.” lanjut Ustadz Munawir.

“Pada prinsipnya ketika orang tua menyerahkan anak mereka untuk mondok ditempat kita, artinya kita menjadi orangtua untuk mereka selama 24 jam selama dipondok. Kita harus pahami psikologi anak yang masih dalam masa pertumbuhan, yang butuh perasaan dilindungi serta diberikan kasih sayang. Jadi, pendekatannya harus seperti orang tua yang mengayomi anaknya, peduli perkembangan mereka, paham kondisi mereka”.

Walaupun aturannya mungkin tidak sekeras dulu mondok di Jawa, tapi kita upayakan agar jam 04.00 pagi kita bangunkan mereka, kita ajak Sholat Tahajjud. Setelah Tahajjud, mereka doa bersama dan diteruskan menghafal Quran hingga masuk sholat Shubuh.” lanjut beliau.

“Anak-anak yang diberikan kasih sayang, bukan saja penekanan ilmu akan semakin mudah untuk dididik serta lebih mudah untuk membangun ahklak mereka. Sehingga selain diajarkan ilmu agama, anak-anak juga kita ajarkan pengetahuan umum syang sesuai dengan perkembangan zaman.”

“Sehingga ketika nanti mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak canggung. Insya Allah bisa menjadi guru, pemimpin di lingkungannya hingga menjadi Ulama. Dan mereka juga memiliki rasa tanggung jawab terhadap agama serta masyarakat sekitarnya.”ucap Ustadz Munawwir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.