Meski Telah Diklarifikasi Terkait Pengusiran 3 Perawat, Walikota Solo Tetap Laporkan Pemilik Kos

  • Whatsapp
Ilustrasi tenaga medis menggunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien COVID-19. Foto : M Agung Rajasa/ANTARA FOTO.

Rabu 29 April 2020 I Pukul 10.22 WIB

Solo, IndoPos86 – Heboh dugaan pengusiran tiga perawat RSUD Bung Karno (RSBK) Solo membuat bidan pemilik indekos mengklarifikasi. Namun upaya tersebut tak menyurutkan niat Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo untuk melaporkan pemilik kos ke polisi.

Bacaan Lainnya

Meski pengusiran itu terjadi pada Jumat (24/04/2020), peristiwa itu baru ramai tiga hari kemudian. Padahal sejumlah pihak telah berupaya mendamaikan dan diselesaikan pada Jumat malam.

Pemilik indekos, Siti Mutmainah, mengklarifikasi bahwa yang dia lakukan bukanlah pengusiran. Dia mengaku meminta secara baik-baik agar tiga perawat itu mencari tempat lain.

“Dengan berat hati kami mohon mbak-mbak (perawat) pindah ke tempat yang lebih aman, untuk keamanan bersama. Dan balasannya, ‘ya bu, nggak apa-apa, nanti barangnya kami ambil’. Tidak ada pemaksaan,” kata Siti di kantor Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Selasa (28/04/2020).

Siti mengaku memiliki alasan melakukan itu, utamanya bahwa suaminya mengalami gangguan kesehatan yang menuntut tidak boleh stres. “Kondisi suami saya mengalami sakit sejak tahun lalu. Dan kondisinya ngedrop jika mengalami stres,” kata dia.

Pemilik indekos Siti Mutmainah bersama suami, Totok dan Camat Grogol Bagas Windaryatno saat memberikan klarifikasi insiden pengusiran di Kantor Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2020). Foto : Labib Zamani/KOMPAS.com

Dari tiga perawat itu, ada satu berinisial I yang sudah delapan bulan tinggal di sana. Kemudian pada 22 April menyusul perawat berinisial R, lalu disusul perawat S yang belum sempat menempati kamarnya.

R ingin tinggal di kos beralasan rumahnya berada di Boyolali. Dia takut jika saat pulang malam menjadi korban kejahatan. “Tapi saat dimintai identitas, ternyata rumahnya mbak R hanya di Panularan, Laweyan (Solo). Itu membuat kami tanda tanya. Kok ngekos? Itu saya dengan bapak (suaminya) hanya bertanya-tanya,” ujarnya.

Kekhawatiran selanjutnya berawal dari adanya informasi bahwa RSBK sudah tidak lagi membuka pelayanan reguler. RSBK kini hanya melayani pasien COVID-19.

“Suami saya tahu itu dan membuat panik. Saya diminta mengimbau teman-teman perawat untuk pindah ke tempat yang lebih aman. Saya berikan WA, tidak ada paksaan, tidak ada pengusiran, kami sudah bicara baik-baik,” kata dia.

Selaku bidan, Siti mengaku paham bagaimana perawat telah melakukan prosedur, tetapi dia tetap tidak bisa menenangkan suaminya. “Terlepas dari profesi saya sebagai bidan, saya juga adalah seorang istri,” ujarnya.

Wali Kota Tetap Lapor Polisi

Meski demikian, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo tetap ingin melanjutkan perkara itu ke proses hukum. Pemkot melalui Direktur RSBK melaporkan kasus itu ke Polres Sukoharjo.

Rudy beralasan agar kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Dia tak ingin kejadian serupa kembali terjadi di daerah lain. “Mau saya laporkan ke Polres Sukoharjo, karena lokasinya di Sukoharjo. Ini biar tidak ada kasus seperti ini lagi di daerah lain,” kata Rudy, Selasa (28/04/2020).

Terkait alasan pemilik kos yang juga bidan bernama Siti Mutmainah yang menyebut kondisi suaminya yang sakit, Rudy menyebut para perawat itu tetap berhak mendapatkan persamaan perlakuan.

“Ya nggak gitu lah. Karena ini bicara hak kok. Kalau perawat melaporkan itu hak. Kita dorong menyampaikan ke Polres,” kata dia. (detik.com/IndoPos86).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.