Klaster Sampoerna Makin Mengkhawatirkan, Khofifah Sesalkan Kelambatan Dinkes Kota Surabaya

  • Whatsapp

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan saat meninjau penindakan pelanggar PSBB di Surabaya, Sabtu (02/05/2020) tengah malam. Foto: Dok. Istimewa.

Minggu 3 Mei 2020 I Pukul 16.08 WIB

Bacaan Lainnya

Surabaya, IndoPos86 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan temuan wabah corona di cluster PT H.M. Sampoerna sebelumnya sudah diketahui sejak 14 April 2020.

Bahkan, sejak tanggal tersebut, PT H.M. Sampoerna juga sudah melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Namun, entah karena laporan dari PT H.M. Sampoerna yang kurang detail atau respons Dinas Kesehatan yang lambat, membuat kejadian tersebut telat ditangani.

Dinas Kesehatan Surabaya juga tak segera melaporkan kejadian tersebut kepada Tim Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur.

Alhasil, setelah dua kasus awal sudah meninggal dunia pada 18 April 2020, manajemen perusahaan yang datang ke Pemprov Jatim, untuk ‘curhat’ mengenai kasus positif di pabrik mereka pada 28 April 2020.

Khofifah yang saat itu rapat evaluasi bersama Forkopimda Provinsi Jatim, kaget bukan kepalang mendengar informasi itu.

Dia langsung menyuruh tim tracing yakni dr. Joni Iswahyuhadi, dr. Kohar Hari Santoso dan timnya untuk melakukan tracing secara mendalam terkait kasus Sampoerna.

“Jadi ini sepertinya agak terlambat responsnya. Jadi manajemen sampaikan 14 April mereka sudah melaporkan hal ini ke Dinkes Surabaya terkait adanya kasus di pabrik itu. Nah, mungkin tidak detail barangkali informasinya. Kalau infonya detail, saya rasa Dinkes akan, melanjutkan dan melakukan quick responses,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi.

Ilustrasi pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/05/2016). Foto: ANTARA.

Padahal, menurut Khofifah, jika tim kesehatan sudah mendapatkan informasi mengenai kasus COVID-19, seharusnya langsung melakukan penanganan dini.

Karena menurutnya, kecepatan layananlah yang menentukan tingkat kesembuhan pasien.

“Jadi hal-hal seperti ini yang ingin saya sampaikan, bahwa kecepatan merespons, kecepatan untuk memberikan layanan itu menjadi sangat penting. Hal itu dilakukan untuk bisa memberikan layanan terbaik. Itu juga ikut menentukan tingkat kesembuhan pasien. Jadi kecepatan layanan itu menjadi sangat penting,” tegasnya.

Karena itulah, Khofifah berharap di kemudian hari, tidak ada lagi kasus terlambat merespons seperti ini.

Jika sudah mendapat laporan atau mengetahui ada orang dengan tanda-tanda klinis tertentu, harus langsung mengomunikasikan sehingga bisa mendapat layanan terbaik sedini mungkin.

Sementara itu, Ketua Gugus Kuratif Penanganan COVID-19 Jatim dr. Joni Wahyuhadi pun mengatakan hal yang sama.

Meski tidak ada respons yang cepat dari Dinkes Surabaya, kinerja manajemen Sampoerna sudah sangat baik sejak awal. Terlebih, sejak 26 April pabrik sudah ditutup.

Tak hanya itu, produk yang diproduksi langsung menjalani karantina selama 14 hari sebelum dibawa ke pasaran.

“Karena kita baru tahu tanggal 28 April itu. Nah kalau prosesnya mulai tanggal berapa persisnya itu, kita tidak tahu. Jadi tanggal 28 manajemen ke sini ya, kita diskusi bagaimana memecahkan masalah di Sampoerna ini. Sangat kooperatif mereka. Itu menjadi suatu tanggung jawab yang baik yang dimiliki oleh Sampoerna,” pungkasnya. (JPNN/IndoPos86).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.