Jokowi : Hanya Napi Pidana Umum yang Dibebaskan Terkait COVID-19, Bukan Koruptor

  • Whatsapp
Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (26/02/2020). Foto : Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO.
“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa (pembebasan) napi koruptor tidak pernah kita bicarakan dalam rapat-rapat kita,”

Senin 6 April 2020 I Pukul 12.30 WIB

Jakarta, IndoPos86 – Presiden Joko Widodo menyatakan tak pernah membahas pembebasan napi koruptor  rapat di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona (COVID-19).

Bacaan Lainnya

“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa (pembebasan) napi koruptor tidak pernah kita bicarakan dalam rapat-rapat kita,” ujar Jokowi saat membuka Rapat Terbatas Laporan Gugus Tugas di Istana Presiden, Senin (06/04/2020)

Jokowi menggarisbawahi, persetujuan pembebasan hanya untuk narapidana dalam kasus pidana umum. Jokowi mengatakan langkah ini serupa dengan yang telah dilakukan oleh negara lain dalam menghadapi wabah virus corona.

Jokowi mencontohkan, misalnya Iran yang telah membebaskan 95 ribu narapidana, hingga Brasil yang turut melepas sebanyak 34 ribu narapidana.

“Kita juga minggu lalu, Saya menyetujui ini juga agar ada juga pembebasan napi. Karena memang lapas (lembaga pemasyarakatan) kita yang over kapasitas sehingga risiko penyebaran COVID-19 di lapas-lapas kita,” tegas Jokowi.

Terkait dengan PP nomor 99 Tahun 2012 yang berkaitan dengan pembebasan untuk napi, Jokowi tegas menyatakan tak ada revisi untuk itu.

“Jadi pembebasan untuk napi lainnya, untuk narapidana umum,” kata Jokowi kembali menegaskan.

Wacana pembebasan napi korupsi kembali bergulir saat Menkumham Yasonna Laoly mengusulkan revisi PP Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Yasonna berdalih karena kondisi lapas yang sudah penuh muatan.

Yasonna merinci setidaknya empat kriteria narapidana yang bisa dibebaskan melalui proses asimilasi dan integrasi melalui mekanisme revisi PP tersebut.

Kriteria pertama, kata dia, adalah narapidana kasus narkotika dengan syarat memiliki masa pidana 5 sampai 10 tahun yang sudah menjalani dua pertiga masa tahanan.

“Akan kami berikan asimilasi di rumah. Kami perkirakan 15.442 (terpidana narkotika) per hari ini datanya. Mungkin akan bertambah per hari,” kata Yasonna Laoly saat menggelar rapat dengan Komisi III DPR melalui teleconference, Rabu (01/04/2020). (CNNIndonesia.com/IndoPos86).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.